Sunday, December 30, 2012

[Review] Life of Pi (2012)


Life of Pi (2012)
 Adventure | Drama
Directed by Ang Lee
Starring: Suraj Sharma, Irrfan Khan, Adil Hussain  and Rafe Spall  
  
Tidak semua kisah dalam novel bisa dgn mudah diadaptasi menjadi film,  ada novel tertentu yg memiliki kesulitan untuk diangkat ke layar lebar dan salah satunya adalah Life of Pi karya Yann Martel, pemenang Booker Prize ini sering disebut-sebut sebagai novel yg unfilmable karena mengangkat kisah pemuda yg berhasil selamat di tengah lautan, berada di perahu dgn beberapa binatang yg salah satunya adalah harimau ganas. Hal ini tentu akan menjadi tantangan bagi siapapun sutradara yg berani membuat film ini dan orang tersebut adalah Ang Lee, filmmaker asal Taiwan yg juga pemenang Oscar ini memang layak untuk mengangkat kisah drama yg sebenarnya tragis tersebut, Life of Pi mengisahkan tentang seorang pria bernama Pi Patel (Irfann Khan) yg saat berusia 16 tahun mengalami sebuah peristiwa luar biasa dlm hidupnya, keluarga Pi memiliki kebun binatang di Pondicherry India, masa kecilnya dihabiskan disana dan ia sendiri tertarik dengan beraneka konsep agama, meski dibesarkan scr Hindu Pi bereksplorasi dgn agama Kristen dan Islam utk tujuan mengenal sosok Tuhan lebih lanjut. Suatu hari keluarga Pi memutuskan pindah ke Kanada dgn membawa koleksi binatang yg ada, di tengah perjalanan kapal yg mereka tumpangi mengalami kecelakaan, Pi (Suraj Sharma) berhasil selamat di tengah lautan dengan sebuah sekoci yg didalamnya terdapat 4 binatang berbeda yakni seekor zebra, hyena, orangutan, dan harimau bernama Richard Parker. Kisah petualangan Pi di lautan selama 227 hari menjadi sajian utama dalam film ini.

Setelah cukup lama proses adaptasi novel laris Life of Pi ke layar lebar akhirnya dapat terwujud di tahun 2012, film ini mampu bertutur layaknya sebuah dongeng dan cerita fantasy dgn gambar2 indah yg ajaib. Ang Lee yg dibantu oleh penulis naskah David Magee tidak hanya menyajikan sebuah kisah petualangan Pi yg dramatis di tengah lautan, namun juga memasukan unsur spiritualisme yg kuat tanpa terlalu terkesan menggurui, kehidupan Pi sendiri saat ia masih kanak2 di India diceritakan secara kronologis, dari asal mula ia diberi nama Piscine Molitor Patel oleh pamannya hingga Pi yg diolok-olok oleh teman sekolahnya karena sering dipanggil “Pissing” membuat film ini  sudah menarik perhatian sejak awal. Tokoh Pi yg dihadirkan lewat 3 orang berbeda usia terlihat pas dgn kemampuan akting yg mereka tampilkan, contohnya Irffan Khan; aktor India pemeran Pi dewasa ini tampak bijaksana saat menceritakan pengalaman hidupnya, ini juga diimbangi dgn penampilan Suraj Sharma, remaja 18 rahun yg baru pertama kali bermain film namun sudah mampu menghidupkan emosi dr karakter Pi yg harus berjuang di tengah lautan, terutama saat ia belajar hidup berdampingan dgn seekor harimau bernama Richard Parker di kapal. 


Layaknya sebuah produksi film Hollywood yg dikerjakan secara gerilya, itulah yg digambarkan Ang Lee saat ia sedang  mengerjakan film Life of Pi ini, syuting film sebagian besar dilakukan di sebuah studio berlokasi di Taiwan yg disulap menjadi tangki air raksasa menunjukan skala yg ambisius dr proyek besar ini, keindahan lokasi baik itu di kebun binatang India (yg terlihat pd opening scene) hingga lautan samudra Pasifik  yg luas mampu disajikan dgn sempurna oleh DoP Claudio Miranda, membuat format 3D yg digunakan menjadi tdk sia-sia, scoring-nya pun terasa menyejukan hati di momen2 yg pas dgn adegan film ini. Di balik keindahan visual dan kecerdasan naskahnya film Life of Pi memang terasa menghibur dan cocok sebagai tontonan keluarga, tema yg diangkat tidak hanya sekedar kisah survival di tengah lautan tetapi juga merupakan sebuah pencarian makna dan jati diri dr kehidupan manusia itu sendiri, Intinya Ang Lee sudah mampu mewujudkan novel yg unfilmable ini menjadi sebuah film yg cantik dan mempesona. 



Saturday, December 22, 2012

[Review] Beasts of the Southern Wild (2012)

Beasts of the Southern Wild (2012)
Drama | Fantasy 
Directed by Ben Zeitlin
Starring: Quvenzhané Wallis, Dwight Henry and Levy Easterly

Banyak film yg menggunakan tema perjuangan hidup dalam kisahnya, salah satunya adalah Beasts of the Southern Wild, sebuah film indie yg unik dan telah memenangkan banyak penghargaan di berbagai festival film internasional, disutradarai oleh Benh Zeitlin dan merupakan karya pertamanya film ini bercerita tentang usaha seorang anak berusia 6 tahun bernama Hushpuppy (Quevenzhane Wallis) dengan ayahnya, Wink (Dwight Henry) yg mencoba untuk bertahan hidup di pemukiman kecil mereka yg disebut “The Bathtub, badai besar dan banjir sedang mengancam tempat tinggal mereka yg terisolasi dan membuat Hushpuppy belajar tentang keterampilan yg dibutuhkan untuk bertahan hidup dari sang ayah yg sedang menderita suatu penyakit, meski usianya sendiri masih 6 tahun Hushpuppy tergolong anak yg pemberani dan enerjik serta memiliki harapan yg tinggi untuk kehidupan yg lebih baik di tengah dunia yg sedang dilanda bencana alam seperti yg terjadi di pemukimannya, selain itu Hushpuppy juga memiliki imajinasi tentang kemunculan kembali satu spesies banteng prasejarah (auroch) yg sudah punah dan sedang menuju ke tempat tinggalnya.  


Dibuat dengan dana hanya $1,8juta di Louisiana, Beasts of the Southern Wild menjelma dari awal yg sederhana (didasarkan dari naskah drama Juicy and Delicious karya teman Zeitlin, Lucy Alibar) menjadi sebuah kekuatan tersendiri, film ini debut di Sundance 2012 dan memenangkan Grand Jury Prize Dramatic, selain itu film ini juga meraih Camera D’Or (untuk Best First Feature) di Cannes 2012. Sang sutradara debutan Benh Zeitlin berhasil menyajikan sebuah gambaran unik  dari sudut pandang seorang anak kecil tentang bagaimana harapan dapat muncul dalam setiap keterpurukan, selain itu setting dan visualisasi yg ditampilkan juga terasa pas dengan kehidupan nyata. Sebagian dari pemeran film ini juga merupakan pemain  amatir yg berasal dari lokasi asli dimana film ini disyut termasuk pemeran utamanya sendiri Quevenzhane, Selayaknya seorang anak kecil Quevenzhane memancarkan naturalisme yg memikat dalam film ini, kemampuannya dalam berakting patut diapresiasi tinggi walau usianya baru 6 tahun, hubungan antara ayah dan anak dalam film ini juga tergambarkan dengan sangat menyentuh disini. Beasts of the Southern Wild  adalah sebuah karya yg menguggah tentang kehidupan manusia dan film ini  juga memiliki pesona dan orisinalitas yg jarang bisa kita temui di era seperti sekarang ini.

 

Wednesday, November 21, 2012

[Review] Argo (2012)


Argo (2012)
 Drama | History | Thriller 
Directed by Ben Affleck
Starring: Ben Afflek, Bryan Cranston, Alan Arkin and John Goodman
 

Dalam dunia perfilman sebuah fakta sejarah bisa dibuat menjadi kisah yg menarik dengan  menambahkan elemen dramatis, seperti film terbaru Ben Aflleck berjudul Argo yg merupakan kisah nyata tentang misi penyelamatan 6 orang warga Amerika Serikat yg terjebak di Teheran Iran yg saat itu sedang mengalami sebuah revolusi, para demonstran yg anti pemerintahan menentang kepemimpinan sang kepala negara Reza Pahlevi yg korup dan menyengsarakan rakyatnya, apalagi sang pimpinan justru mendapat suaka ke AS saat ia akan diadili oleh rakyat, hal ini memicu demonstrasi  besar-besaran di kedubes AS pd tahun 1979 dan membuat demonstran yg marah berhasil masuk ke dalam gedung dan menyandera sekitar 50 org staf kedubes, tanpa mereka ketahui enam orang berhasil meloloskan diri dan mencari perlindungan di kediaman milik Dubes Kanada. Pemerintah AS pun mencari cara agar enam orang warganya bisa diselamatkan dan akhirnya seorang agen CIA bernama Tony Mendez (Ben Aflleck) mendapatkan ide menggunakan identitas palsu sbg kru film untuk misi penyelamatan, agar penyamarannya terlihat meyakinkan ia bekerja sama dengan 2 org produser  film Hollywood, John Chambers (John Goodman) dan Lester Siegel (Alan Arkin), mereka membuat sebuah produksi film sci-fi palsu berjudul “Argo” dan setelah rencana Tony ini disetujui pemerintah ia pun berangkat ke Teheran dalam misi penyelamatan yg beresiko tersebut.


Dapat dibilang saat ini Ben Affleck sedang menikmati masa keemasan dalam karirnya sebagai seorang fillmmaker sekaligus aktor, sebelum menjadi seorang sutradara pria asal Boston ini memang lebih dikenal sebagai aktor Hollywood yg lebih sering bermain dalam film2 blockbuster yg tak jarang mendapat kritik negatif, Ben sendiri memang pernah mendapat Oscar untuk Best Screenplay dlm film Good Will Hunting yg ditulisnya bersama sang sahabat setia Matt Damon, namun setelah itu Matt Damon yg justru selalu mendapat peran dan pilihan film yg bagus, berbanding terbalik dengan Ben yg justru selalu diingat dengan film2 yg buruk seperti Gigli ataupun Daredevil, karir Ben Affleck justru mulai bersinar lagi saat ia memutuskan untuk menjadi seorang sutradara dengan film yg ditulisnya sendiri Gone Baby Gone (2007) dan The Town (2010), lewat karyanya tersebut Ben kini mulai menapaki karir Hollywood-nya dengan mengikuti jejak Clint Eastwood dan George Clooney.   


Lewat Argo film ketiganya ini Ben Affleck  yg dibantu penulis naskah Chris Terrio terlihat semakin matang dalam menyajikan sebuah film yg memiliki intensitas tinggi dengan diimbangi alur cerita yg tidak membosankan, sejak awal film ini sudah berpotensi untuk menampilkan kisah nyata yg dramatis, setting cerita yg berpindah-pindah baik itu di Teheran, Washington, maupun Hollywood  semuanya seolah memilki karakteristik tersendiri, adegan2 saat konflik di Iran dimana Tony Mendez berusaha untuk meloloskan 6 orang dan semuanya harus berpura-pura  menjadi kru film dari adalah sebuah contoh suspens yg menegangkan, selain itu proses pembuatan film sci-fi palsu berjudul “Argo” di Hollywood seperti sedang menunjukan sebuah humor satir yg menarik, casting pemeran yg pas dengan didukung dialog2 yg kuat didalamnya  menjadikan Argo sebuah film yg layak disaksikan, tentu hal ini juga membuat film Argo  diprediksi untuk masuk ke dalam ajang penghargaan bergengsi tahun depan, namun yg pasti nama Ben Affleck yg jelas patut diperhitungkan karena berhasil mengangkat sebuah kisah nyata yg terasa aneh ini menjadi film yg berbobot.    




[Review] Seven Psychopaths (2012)


Seven Psychopaths (2012)
 Comedy | Crime 
Directed by Martin McDonagh
Starring: Colin Farrell, Sam Rockwell, Woody Harrelson and Christopher Walken

Dari judulnya sudah bisa ditebak bahwa terdapat 7 orang psikopat dlm film ini, namun pd intinya film kedua dr sutradara/penulis Martin McDonagh ini adalah sebuah fiksi kejahatan yg gila, lucu dan tentunya dipenuhi adegan kekerasan di sepanjang film, Seven Psychopaths bercerita tentang kehidupan Marty (Colin Farrell), seorang penulis naskah di LA yg gemar mabuk-mabukan dan sedang kesulitan dlm menyelesaikan naskah terbarunya yg ia beri judul “Seven Psychopaths”, sedangkan sahabatnya Billy (Sam Rockwell) adalah seorang aktor pengangguran yg juga pelaku penculikan anjing, bersama Hans (Christopher Walken) keduanya kerap menculik anjing lalu kemudian berpura-pura mengembalikan kpd tuannya demi mendapat imbalan. Billy yg ikut membantu Marty dengan memberi inspirasi cerita utk naskah yg sedang dikerjakan terlibat dlm masalah besar, suatu hari ia menculik seekor anjing Shih Tzu yg ternyata adalah anjing kesayangan milik bos gangster bernama Charlie (Woody Harrelson), sialnya lagi Charlie adalah seorang psikopat kejam yg tak akan berpikir dua kali untuk membunuh siapapun yg terlibat atau berhubungan dengan penculik anjing kesayangannya tersebut, hal ini pun ikut menyeret Marty yg bersama kawannya Billy dan Hans menjadi target buruan Charlie serta anak buahnya. 


Lewat film debutnya yg berjudul In Bruges (2008) Martin McDonagh sudah menunjukan potensinya sbg filmmaker modern dalam membuat sebuah black comedy yg stylish, lucu dan mempesona. Dalam film yg meraih nominasi Oscar utk kategori naskah original terbaik itu Martin membuat kisah penjahat yg komikal dan kesannya terstruktur seperti sebuah film Quentin Tarantino berlatar Eropa, film itu juga merupakan awal kerjasama Martin dengan aktor yg juga berasal dr Irlandia seperti dirinya Colin Farrell, kini untuk film terbarunya Seven Psychopaths Colin yg berperan sbg penulis naskah bernama Marty seolah seperti memainkan alter ego dr McDonagh sendiri, di film ini ia menulis naskah dgn judul yg sama, menceritakan kisah 7 orang psikopat yg secara tak langsung malah membuat dirinya terlibat konflik dgn sosok psikopat di dunia nyata, Colin justru tidak terlalu menonjol di film ini jika dibandingkan Sam Rockwell yg berperan sbg sahabatnya  yg eksentrik dan sinting Billy Bickle, Sam menghadirkan akting yg penuh gairah dan dialognya selalu terasa lucu, apalagi ia juga beradu kemampuan dgn aktor sekaliber Christopher Walken yg tampil prima di film ini,  kekompakan akting diantara mereka menjadi keunggulan dalam kisah yg berjalan sangat absurd seperti ini.


Memang harus diakui plot film ini tidak mudah ditebak dan selalu saja ada kejutan yg menghibur, semua karakter dlm film ini juga seperti mengambil referensi dr film2 bertemakan gangster atau psikopat, adegan tembak menembak ala Hollywood terlihat keren disini seperti layaknya gaya Tarantino dlm membuat film. Secara logika cerita film ini memang kurang masuk akal, apalagi setelah masuk ke bagian konflik yg sebenarnya bisa dibuat lebih serius, namun yg saya rasakan adalah  Martin seperti sedang asyik bermain-main dgn karakter2 yg ia ciptakan sendiri hingga membuat plot menjadi tdk begitu penting, ketegangan yg terbangun di film ini pun berubah menjadi sebuah humor yg aneh meski memang tetap menghibur. Jika dibandingkan dgn In Bruges, film kedua dr Martin McDonagh ini lebih banyak dlm menampilkan kekerasan yg stylish disertai humor yg lucu namun tetap tidak bisa menggunguli film pertamanya tersebut. Yg pasti Martin sudah berhasil membuat Seven Psychopaths menjadi salah satu film yg menurut saya ekstentrik dan layak utk disaksikan di thn 2012 ini,


Monday, November 12, 2012

[Review] Ruby Sparks (2012)


Ruby Sparks (2012)
 Comedy | Fantasy | Romance 
Directed by Jonathan Dayton & Valerie Faris
Starring: Paul Dano, Zoe Kazan, Chris Messina and Annette Bening

 Film romantic comedy yg memasukan unsur fantasi tentu  akan sangat menarik bagi para penggemar genre ini, selama ini memang film romcom selalu diidentikan dgn cerita yg terkesan klise dan sepertinya tak banyak yg bisa menawarkan sesuatu yg baru dan menarik kedalam genre ini, namun tidak demikian dengan film  Ruby Sparks yg merupakan karya terbaru dari pasangan sutradara Jonathan Dayton dan Valerie Faris, dimana film terakhir mereka Little Miss Sunshine adalah sebuah indie hits di thn 2006 yg sempat masuk nominasi Oscar. Ruby Sparks menceritakan tentang seorang penulis novel bernama Calvin Weir-Fields (Paul Dano) yg sedang mengalami kebuntuan ide dlm menulis karya terbarunya, padahal saat ia berumur 19 tahun Calvin menulis novel debutannya yg meraih  sukses, Calvin mengunjungi seorang terapis agar ia bisa bangkit dan menulis kembali, ia pun diberi tugas oleh sang terapis untuk menulis tentang gadis misterius yg terus muncul di mimpinya, Calvin segera menulis cerita tentang seorang gadis berambut merah yg ia beri nama Ruby Sparks (Zoe Kazan) dan yg membuat  Calvin terkejut adalah gadis ciptaanya itu menjadi sosok nyata dan muncul dalam kehidupannya, Ruby sendiri memiliki kepribadian yg riang dan membuat Calvin jatuh hati karena ia merasa telah menemukan gadis impiannya selama ini


Ruby Sparks dapat dibilang sebuah film romantic comedy yg menarik perhatian di tahun 2012 ini, premisnya dimana seorang pria yg menciptakan gadis idamannya mungkin terdengar aneh namun keajaiban dalam kisah cinta yg seperti ini tentu sayang untuk dilewatkan. Zoe Kazan sang aktris pemeran Ruby sekaligus penulis naskah film ini adalah sosok yg paling mencuri perhatian di film ini, apalagi disini ia dipasangkan langsung dengan Paul Dano yg merupakan kekasihnya dan tentu saja chemistry yg nyata antara mereka berdua sangat berpengaruh dalam kisah cinta film ini., Paul Dano sendiri mampu bermain dengan baik sebagai seorang penulis yg mengalami writer’s block dan film ini juga merupakan kali kedua ia berperan dibawah arahan Jonathan dan Valerie setelah sebelumnya ikut bermain dalam Little Miss Sunshine. Dalam sebuah artikel Zoe sendiri menyebut banyak mendapat inspirasi dari film2 romantic karya Woody Allen saat menulis naskahnya, selain itu Zoe Kazan yg juga merupakan cucu dr sutradara legendaris Elia Kazan terlihat memiliki bakat seni baik itu dalam berakting maupun menulis, dalam sebuah adegan lucu di film ini ia bahkan fasih berbahasa Perancis dengan lancar, campuran antara kisah romantic comedy dengan fantasi cerdas seperti ini menjadikan Ruby Sparks sebuah tontonan yg menyenangkan bahkan untuk anda yg tidak terlalu menggemari film2 bergenre romcom.



Tuesday, October 16, 2012

[Review] The Raven (2012)

The Raven (2012)
 Mystery | Thriller 
Directed by James McTeigue
Starring: John Cusack, Alice Eve, Luke Evans and Brendan Gleeson

Bagi para penikmat kesusastraan Amerika, tentu nama Edgar Allan Poe tidaklah asing lagi. Poe dikenal dengan karya-karyanya yg misterius dan sadis, ia gemar sekali memasukan unsur pembunuhan, kriminalitas, dan kematian ke dalam tulisannya. Kisah yg menjadi fokus film The Raven ini berkaitan erat dengan kisah hasil tulisan Edgar Allan Poe sendiri, diawali sebuah kasus pembunuhan sadis dengan korban seorang ibu dan anak gadisnya yg terjadi di Baltimore, Maryland pd abad ke-19, serangkaian teror dan pembunuhan lantas terjadi dengan modus mirip dengan karya tulis yg dihasilkan Edgar Allan Poe (John Cusack), karena itu Poe diminta keterangannya oleh pihak kepolisian yg dipimpin detektif Emmet Fields (Luke Evans) dan Poe juga diajak bekerjasama untuk mengivestigasi kasus pembunuhan berantai tersebut, sang pembunuh berantai ternyata juga mengincar kekasih Poe, Emily Hamilton (Alice Eve)  yg akhirnya  diculik oleh sang pembunuh yg menginginkan agar Poe terus menulis cerpen2 baru sebagai bentuk komunikasi antar mereka. Untuk menyelamatkan nyawa Emily, Poe diberikan petunjuk2 yg ditinggalkan di beberapa korban pembunuhan selanjutnya yg juga mengambil inspirasi dr karya2 Poe sendiri.


Sebenarnya saya mengharapkan The Raven akan menjadi sebuah film thriller yg sarat akan misteri berciri khas tulisan Edgar Allan Poe, di beberapa adegan2 awal memang dapat memancing rasa keingintahuan penonton untuk menebak-nebak  siapa pelaku pembunuhan yg mengambil inspirasi karya Poe, namun sayangnya sang sutradara James McTeigue (V for Vendetta) terlihat kurang piawai dalam menjaga alur ceritanya agar tetap menarik  perhatian, walaupun memang atmosfer misteriusnya sendiri dapat terbangun di sepanjang film. Sekilas The Raven lebih terlihat seperti Sherlock Holmes namun kental dengan unsur gore yg tesaji di beberapa adegannya, satu hal yg terlihat kurang pas adalah pemilihan John Cusack sebagai sosok Poe, penampilannya masih terlihat  kurang meyakinkan untuk memerankan Poe yg digambarkan sebagai seorang penyendiri dan alkoholik. Memasukan unsur fiksi ke dalam kisah nyata seseorang memang sudah menjadi hal yg lumrah di dunia sinema, faktor ini juga berdampak terhadap bagian ending filmnya yg terkesan terlalu dipaksakan agar selaras dengan kehidupan Poe yg asli, The Raven memang bukan  film yg dapat menghibur karena ceritanya yg kelam disamping beberapa faktor kelemahan yg ada, kisahnya sendiri yg mengambil unsur2 dr karya tulisan Poe tentu menarik buat mereka yg memang menggemari karya sang penulis walaupun harus diakui film ini tidak dapat memuaskan penggemar thriller sekalipun.


Wednesday, August 22, 2012

[Review] Moonrise Kingdom (2012)


Moonrise Kingdom (2012)
 Comedy | Drama | Romance 
Directed by Wes Anderson
Starring: Jared Gilman, Kara Hayward, Bill Muray, Edward Norton, Frances McDormand and Bruce Willis
 Masa kanak-kanak seseorang dimana terdapat sifat kepolosan, kenakalan, serta pencarian jati diri dan cinta menjadi tema sentral dalam Moonrise Kingdom, film ke-7 karya sineas unik Wes Anderson, yg merupakan kembalinya seorang Wes Anderson ke dalam live-action film setelah sebelumnya membuat film animasi berjudul The Fantastic Mr.Fox. Disini kita akan dibawa ke era 60-an di sebuah pulau kecil (New Penzance) dimana  tokoh utamanya adalah sepasang anak berusia 12 tahun yg saling mencintai bernama Sam Shakusky (Jared Gilman), seorang pramuka yg melarikan diri  dr kampnya bersama Suzy Bishop (Kara Hayward), anak gadis yg tidak betah tinggal bersama keluarganya di rumah, mereka berdua memutuskan untuk kabur bersama-sama ke sebuah lokasi di pulau tersebut yg mereka namakan “Moonrise Kingdom”, tentu saja pelarian Sam dan Suzy menjadi masalah bagi org2 terdekat mereka seperti ketua dr kamp pramuka Sam yakni Randy (Edward Norton), kedua orangtua Suzy, Walt dan Laura Bishop (Bill Murray & Frances McDormand) dan seorang polisi New Penzance bernama Kapten Sharp (Bruce Willis). Dalam Misi pencarian kedua anak tersebut berbagai macam upaya dilakukan seperti mengerahkan anak2 dr kamp pramuka untuk melakukan pencarian jejak,  Sam dam Suzy  juga harus melewati beberapa peristiwa dalam petualangan mereka untuk sampai pd tujuan akhir mereka sendiri yakni "Moonrise Kingdom". 


Film2 dr Wes Anderson memang memiliki style tersendiri yg unik dan jarang bisa kita lihat dalam film2 Hollywood kebanyakan, kredibilitas indie memang masih melekat pada sosok Wes dan hal ini tentu memberikan pengaruh kuat dalam setiap karya yg ia buat, tak terkecuali film terbarunya kali ini Moonrise Kingdom dimana Bill Murray kembali bermain (utk yg ke-6 kali) ditambah dgn Aktor/Aktris hebat lainnya seperti Ed Norton, Frances McDormand, dan Bruce Willis membuat sempurna barisan cast utk film ini sendiri, pujian juga pantas diberikan untuk 2 anak pemeran utama di film ini, Jared Gilman & Kara Hayward yg mampu menampilkan karakter unik dr sepasang anak yg jatuh cinta, dari segi visual film Moonrise Kingdom terasa kaya akan warna sehingga menampilkan gambar yg lebih terasa artistik apalagi ditambah dgn shot dan pergerakan kameranya yg khas, setting era 60-an diperlihatkan scr detail dan membuat kesan retro terlihat jelas, seperti filmnya yg lain scoring juga menjadi unsur penting dalam karya Wes Anderson dan kali ini instrument musik klasik karya Benjamin Britten menambah hidup nuansa filmnya sendiri, tidak lupa Wes juga menampilkan dialog2 lucu yg sudah menjadi ciri khasnya selama ini, secara keseluruhan Moonrise Kingdom adalah sebuah tontonan yg menarik dan berbeda dari film2 lainnya di tahun 2012 dan juga merupakan salah satu yg terbaik tahun ini, apalagi kisahnya sendiri yg seolah menggabungkan petualangan, keluarga, komedi, dan cinta ala Wes Anderson.


 

Monday, July 30, 2012

[Review] The Amazing Spider-Man (2012)


The Amazing Spider-Man (2012)
 Action | Adventure | Fantasy 
Directed by Marc Webb
Starring: Andrew Garfield, Emma Stone, and Rhys Ifans

Tidak ada yg menyangkal bahwa Spider-Man merupakan salah satu tokoh komik superhero yg paling banyak digemari, tentu kita masih ingat dengan kesuksesan film pertamanya di thn 2002 dengan sutradara Sam Raimi dan bintang utamanyaTobey Maguire, Marvel seolah ingin memperkuat dominasinya tahun ini setelah The Avengers yg sukses di box-office, kini giliran aksi si manusia laba-laba yg kembali diangkat ke layar lebar dengan proyek reboot The Amazing Spider-Man, kisahnya dimulai dari awal saat Peter Parker (Andrew Garfield) masih seorang remaja SMA yg penyendiri dan tidak populer, Peter yg sejak kecil ditinggal oleh orangtua kandungnya hidup bersama pamannya, Ben (Martin Sheen) dan bibinya May (Sally Field) yg sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri, Peter Parker mencintai seorang gadis cantik yg juga teman sekolahnya bernama Gwen Stacy (Emma Stone), seperti yg sudah diketahui Peter mendapat kekuatan super saat ia terkena gigitan laba-laba radioaktif, kematian pamannya membuat Peter menyadari ia memiliki tanggung jawab yg besar dengan kekuatannya itu, ditambah hadirnya sosok villain The Lizard/Dr.Curt Connors (Rhys Ifans) yg membuat masalah di kota membuat Spidey harus melawan kadal raksasa tersebut sekaligus melindungi keselamatan warga.


Setelah 5 tahun absen kisah superhero remaja ini pun direboot dengan harapan membawa visi baru ke dalam ceritanya, sutradara Marc Webb yg ditunjuk untuk menyutradarai film ini sebelumnya sudah dikenal dengan film romcom yg sukses mencuri perhatian 500 Days of Summer, bisa dibilang bahwa Webb memiliki beban tersendiri untuk membawa kesegaran baru di film ini mengingat aksi Spidey dalam film sebelumnya (Spider-Man 3) tidak mendapat respon positif di kalangan penggemar, pemilihan cast baru untuk sang superhero yg kali ini diperankan oleh Andrew Garfield dapat dibilang pas dengan imej remaja seorang Peter Parker, walaupun sebenarnya sosok Tobey Maguire sendiri masih melekat di ingatan , seperti film Marvel lainya cameo dari sang kreator yakni Stan Lee juga terlihat disini dalam satu adegan di perpustakaan. Dari segi cerita reboot ini sebenarnya tidak membawa sesuatu yg baru selain sosok cinta pertama dr Peter yg diganti agar sesuai versi komiknnya yakni Gwen Stacy bukan Mary Jane, chemistry antara Andrew dengan Emma Stone disini terlihat serasi mengingat di kehidupan nyata pun mereka adalah sepasang kekasih


Aksi seru sang manusia laba-laba saat bergelantungan di antara gedung atau sisi humor dr Spidey yg sering ia tampilkan saat sedang beraksi masih menjadi hiburan utama dr film ini, namun ini juga tidak lantas membuat filmnya terlihat istimewa karena memang The Amazing Spider-Man sendiri masih terasa kurang inovatif, apalagi villainnya sendiri The Lizard terlihat tidak memberikan ancaman serius disini layaknya Green Goblin atau Doc Ock. Seperti perkiraan saya film reboot Spider-Man ini masih terasa seperti pengulangan dr film pertamanya meski dengan kehadiran beberapa tokoh yg berbeda, jelas ini tidak akan menimbulkan kesan yg mendalam buat anda yg memang penggemar Spidey, sebagai sebuah film action superhero tentu diharapkan sekuel The Amazing Spider-Man bisa lebih menggigit dengan intensitas pertarungan yg lebih seru, lebih menghibur dan tidak terlalu terfokus untuk menyamai versi dr Sam Raimi yg sudah lebih dulu sukses. Patut dinantikan juga apakah Spidey nantinya akan ikut beraksi bersama rekan2 sesama pahlawan Marvel yakni The Avengers dalam film yg berikutnya.



[Review] Brave (2012)

Brave (2012)
 Animation | Action | Adventure 
Directed by Mark Andrews & Brenda Chapman
Starring: Kelly Macdonald, Billy Connolly and Emma Thompson

Nama Pixar Animation selalu identik dengan film2 animasi yg berkualitas tinggi, studio berlogo lampu meja ini dikenal hebat dalam memproduksi film dengan gambar animasi yg apik serta didukung cerita yg berbobot dan menghibur untuk semua kalangan, tak jarang kisah yg mereka buat bisa menggugah emosi bagi siapapun yg menontonya seperti Wall-E, Up & Toy Story 3. Di tahun 2012 ini Pixar melakukan terobosan baru untuk film ke 13-nya dengan menampilkan kisah fairytale dan tokoh utama seorang princess, Brave bercerita tentang kehidupan seorang gadis putri raja bernama Merida (Kelly MacDonald) yg tinggal di dataran tinggi Skotlandia, Merida tumbuh menjadi sosok gadis tomboi yg gemar memanah dan berburu di hutan, terlihat bahwa bakat Merida diwarisi dari ayahnya Raja Fergus (Billy Connoly) yg juga seorang petarung, tapi sikap Merida inilah yg membuat sang ibu, Ratu Elinor (Emma Thompson) tidak senang dan justru menginginkan anak gadisnya tampil feminim dan anggun, puncaknya adalah ketika Merida enggan mengikuti tradisi saat ia dicarikan jodoh anak kepala suku oleh sang ibu yg membuat Merida bertengkar dengan ibunya, saat Merida kabur dr rumah menuju hutan ia tersesat dan bertemu seorang penyihir, ia lantas meminta sebuah mantra sihir agar sang ibu merubah pikirannya, namun yg terjadi malah sebuah keanehan yg justru bisa merubah nasib Merida dan keluarganya sendiri.

 
 Brave dapat dibilang sebuah upaya Pixar untuk membalas kekecewaan para penggemar dimana tahun lalu film Cars 2 yg sukses di box office justru banyak mendapat kritikan negatif, Brave merupakan sebuah film animasi yg menghibur dengan kelucuan2 yg ditampilkan, unsur fairytale dengan nuansa Skotlandia sangat kental terasa, 2 sutradara yg menangani film ini, Mark Andrews & Brenda Chapman, berhasil menunjukan sebuak kisah petualangan seorang gadis yg mengalir dengan lembut disertai momen2 yg menarik dalam perjalanannya, karakter Merida seolah mewakili sisi remaja yg berani dan ingin lepas dari tradisi yg tidak sesuai dengan kemauannya, selain itu relasi antara anak dengan ibu di film ini juga terasa dekat dengan kehidupan nyata dimana konflik menjadi penghambat hubungan antara Merida dengan ibunya sendiri, inilah yg menjadi kelebihan Pixar dalam membuat cerita yg memiliki pesan moral dan dapat mudah dimengerti oleh semua usia. Seperti biasa Pixar juga selalu menampilkan animasi dengan detail, hampir semua gambar yg ditampilkan seakan mampu memberi kesan yg sama seperti benda aslinya, para animator yg kreatif dan hebat tentu menjadi salah satu kunci kesuksesan dari studio yg dipimpin oleh John Lasseter ini. Overall meski harus diakui ini bukanlah rilisan Pixar yg terbaik, Brave masih memenuhi persyaratan sebagai film animasi yg menghibur dan tentunya menarik untuk ditonton bersama keluarga.